

SEMALAM DI LONDON, ADVENTURE 1

 

 


London, siang jam satu...
Evelline duduk di dekat patung Singa, di Trafalgar Square. Rambutnya yang indah ditiup angin, mantel ungu membalut tubuhnya, leher yang halus mulus itu mengintip nakal di atas syal sutera hitam. Kakinya yang jenjang dan indah terbungkus celana jeans ketat hitam, indah sekali. Sesekali ia melempar segenggam makanan burung, dan merpati-merpati gemuk beterbangan menghampiri... Lama sekali sudah dia menunggu.

Ditatapnya puncak gedung parlemen, Big Ben menunjukkan pukul satu lebih sepuluh...ia mulai gelisah. Ia berdiri, dan melangkah menyeberangi jalan. Langkahnya terhenti ketika sebuah Porsche merah jambu hampir menabraknya. Ia mengumpat dalam hati ketika porsche itu menjauh, ditatapnya mobil itu...

Ketika matanya kembali melihat ke depan, dilihatnya postur tubuh yang tak asing lagi baginya... Wanita berwajah Asia, rambut sebahu yang terurai ditiup angin dingin kota London. Kacamata berlensa biru tak dapat menyembunyikan tatapan wanita jangkung itu, yang mengarah pada dirinya. Evelline sedikit tertegun...

Dilihatnya wanita itu, dengan celana ketat biru muda membalut kakinya yang sangat panjang, sebuah jaket pendek membungkus tubuhnya. Namun kancing-kancing jaket itu terbuka, terlihat kaos ketat berwarna putih membalut tubuh semampai itu.

"Hai, Evil, udah lama nunggu?" sapa wanita jangkung itu. "Nggak kok...baru aja" jawab Evelline bersopan santun...

Keduanya melangkah bersama menuju stasiun kereta bawah tanah, dan mengambil kereta menuju Oxford Road. Beberapa pasang mata pria nakal tak hentinya menikmati keindahan kedua tubuh semampai itu...tak sedikit pula suitan nakal terdengar dari mulut beberapa pemuda kulit hitam yang kebetulan berpapasan, kedua wanita itu hanya membalas dengan sedikit senyuman anggun.

Evelline melemparkan pantatnya ke sofa model victoria yang menghiasi kamar suite itu. Mantelnya tak lagi melekat pada badannya. Kemeja ungu yang terbuka 3 kancing atasnya itu pun tak mampu menyembunyikan lekuk liku badan Evelline yang begitu menawan. Leher jenjang dan belahan dada yang halus pun tampak begitu menantang. Dua tonjolan mungil nampak menyembul pada kemeja ungu yang begitu tipis.

Jennifer berdiri membelakangi jendela, kaos dan celana ketat itu benar-benar mencetak keindahan pemakainya. Evelline tak henti menatap lekukan pinggang yang ramping, dua buah bola indah yang menempel di dada Jennifer, terbungkus rapi oleh kaos putih. Kaos putih yang tipis itu tak nampak polos karena dihiasi oleh dua tonjolan kecil di puncak kedua bola tadi.

Kamar suite seluas 7x7 meter itu terasa memancarkan kesan romantis, dengan pemandangan menghadap ke jembatan London. dindingnya yang dilapisi kayu oak tua beraroma eksotis. Untaian lampu kristal yang tergantung pada langit-langit tinggi menyiratkan nuansa Eropa klasik. Sofa bergaya Victoria itu tampak makin indah dengan tubuh Evelline di atasnya. Di sudut ruangan, lantai sedikit menanjak, dan diatasnya, teronggok sebuah ranjang klasik berukuran 2x2 meter, dihiasi sprei katun berwarna putih. Tepat di tengah ruangan, berseberangan dengan set sofa tempat Evelline terbaring, berdiri sebuah kotak kaca kecil. Kontras sekali dengan sekitarnya, tak lain adalah sebuah shower box.

Dengan gerakan yang begitu indah, Jennifer melepaskan kaos ketatnya. Tampak jelas kulit Asia yang halus, putih bersih, dengan sepasang buah dada ranum yang berhiaskan puting kecil berwarna merah jambu kecoklatan. Celana ketatnya pun kini telah teronggok dibawah kakinya. Gadis jangkung itu menyentuh ujung dagunya dengan ujung jari tengah, mengengadahkan kepalanya, memejamkan mata, dan ujung jarinya bergerak halus dari dagunya turun pelahan ke leher, dan belahan dadanya. Matanya kembali terbuka, ditatapnya Evelline, lalu ia melangkah masuk ke shower box.

Evelline melihat dengan jelas kucuran air hangat membasahi tubuh Jennifer, dilihatnya kepala gadis itu menengadah ke atas, kedua tangannya terangkat mememegangi tengkuknya, kedua payudaranya membusung ke depan, kedua putingnya tampak basah dan menggoda, Evelline mulai melepas kancing bajunya satu demi satu. Terlihat jemari Jennifer merambat pelan menuju ke dadanya sendiri, mengusap dan mengelus, Evelline dapat melihat dengan jelas butiran-butiran air yang membasahi rambut-rambut halus di bawah perut Jennifer. Jeans ketat pelahan turun, dan nampaklah tungkai-tungkai Evelline yang panjang, halus dan mengkilat. Jennifer mematikan air, melangkah keluar dengan tubuh yang basah, butir-butir air menggelinding berlarian di sekujur tubuh indahnya. Ia melangkah mendekati Evelline.

Evelline berdiri perlahan-lahan, tubuh indah semampainya tak lagi terselubungi apa-apa. Kedua badan indah itupun berpelukan...Evelline merasakan dinginnya tubuh Jenni yang basah...namun kehangatan lain segera mengaliri tubuh Evelline ketika bibir-bibir mereka menyatu, dan lidah-lidah saling berpagutan. Evelline melepaskan mulutnya dari mulut Jenni, dan menyusuri rahang Jenni dengan lidahnya. Jenni hanya terpejam dan merintih tertahan. Lidah Evelline kini menari di leher jenjang Jennifer, kedua tangan Jenni meremas-remas rambut Evelline.

Kini di hadapan Evelline tampaklah sepasang bukit yang begitu indah. Putih bersih, halus dan segar. Butiran-butiran air masih nampak membasahinya. Pada puncaknya, nampaklah puting-puting merah jambu yang dikelilingi lingkaran kecil kecoklatan. Evelline menjalankan lidahnya di sana, menyapu-nyapu tonjolan kecil itu. Tiap sapuan lidah Evelline yang hangat itu menyentuh putingnya, Jenni terhenyak. Lidah Evelline kian cepat, membasuh, melingkari, dan mengait-ngait puting Jenni. Kedua alis Jenni menyatu di tengah, matanya setengah terpejam, hanya menampakkan putihnya saja, mulutnya setengah terbuka, giginya menyatu menahan derasnya gelombang kenikmatan yang menyerbu tubuhnya melalui puting-putingnya...kaki jenjang Jennifer mulai goyah...namun semakin ia mengerang, semakin cepat pula lidah Evelline memoles-moles putingnya.

Jennifer kian tak mampu bertahan, kepalanya jatuh kebelakang, wajahnya nampak mengekspresikan rasa sakit walaupun yang sebenarnya ia rasakan ialah kenikmatan yang tak henti-henti mengaliri tubuhnya dengan deras...Ia tak lagi mampu berdiri tegak...pelukan Evelline menahannya agar tidak roboh, namun lidah gadis itu tetap saja menghajar puting-putingnya dengan jilatan-jilatan yang buas dan hangat...Tak mampu bertahan, akhirnya tubuh jangkung itu rebah di karpet tebal yang berwarna merah hati.

Evelline tertegun sejenak menyaksikan 'korban'-nya terkulai lemas tak berdaya. Merahnya karpet dan putihnya kulit Jennie terkesan begitu kontras dan indah. Dilihatnya kedua puting Jenni kini mengeras bagai karang, mencuat begitu tinggi, dan naik turun mengikuti desahan nafas Jenni yang terengah-engah... Jenni tetap terpejam ketika tangan-tangan hangat Evelline mengangkangkan pahanya yang kini gemetar menahan birahi.

Terlihat jelas oleh Evelline keindahan perut Jenni yang langsing, di bawahnya dihiasi rambut-rambut halus yang tumbuh rapi. Di bawah rambut-rambut itu tampak seberkas celah kemerahan. Celah itu berwarna kemerahan, dilindingi sepasang bibir vertikal yang menyatu membentuk sebuah tonjolan mungil yang kini nampak berdenyut. Cairan bening agak kental nampak membasahi seluruh celah itu.

Evelline menjatuhkan wajahnya tepat pada celah itu, bibirnya menghisap tonjolan klitoris Jenni, menarik-nariknya. Lidah Evelline pun tak tahan lagi, dan segera ikut menari-nari menjelajahi celah kemerahan itu. Jenni menggeliat-geliat tak terkendali, rintihan-rintihan lemah terdengar dari bibirnya. Matanya terpejam, kedua tangannya meremas-remas payudaranya yang tadi telah dikerjai habis-habisan oleh Evelline. Evelline memegang erat kedua paha Jenni, lidahnya terus menyapu-nyapu kelamin Jennifer, yang kian banyak membanjirkan cairan itu.

Jenni menjerit tertahan dan menggigit bibir bawahnya ketika dirasakannya sebuah jari lentik menerobos liang pribadinya...Ia merintih-rintih begitu memelas, namun Evelline tak peduli, jari-jarinya yang lentik dan indah menerobos liang kelamin Jennifer, dan menari-nari di dalam, menggesek tiap milimeter dari dinding bagian dalam liang Jenni, tentu saja Jenni tak mampu bertahan dari serangan birahi yang begitu dahsyat itu...punggungnya meregang-regang, kepalanya terbuang ke kiri ke kanan, mengiringi erangannya yang kian memelas dan memilukan.

Jemari Evelline menerobos kian dalam, bergerak kian cepat, lidah Evelline kini kembali menyapu puting kiri Jennifer. Keringat dingin membasahi tubuh jangkung yang kini tergolek tak berdaya itu...Ia menggeliat-geliat tak kuasa menahan derasnya aliran gelombang birahi yang menerpa jiwa raganya...Puting dan kelaminnya kini bersama-sama mengalirkan kenikmatan yang begitu dahsyat dan hangat...yang makin melemahkan pertahanannya... Evelline kian bernafsu...dihunjam-hunjamkannya jemarinya kian dalam...diremasnya payudara Jennie kuat-kuat, dan jilatannya pun kian buas mengait-ngait puting Jennifer yang kini berdenyut-denyut...

Jennifer terpejam...wajahnya meringis menahan gejolak dentuman birahi dari dalam tubuhnya...yang kian tinggi, kian tinggi... Evelline semakin buas...Jennifer menjerit-jerit histeris, kakinya meronta-ronta, pinggulnya menggeliat-geliat... Evelline semakin buas... Hingga akhirnya tiba-tiba terdengar Jeritan Jenni tertahan...Gerakannya terhenti...tubuhnya meregang... tangannya mencengkeram erat karpet itu...dari kelaminnya terpancar cairan lagi, namun kali ini lebih bening, lebih cair, terpancar jauh seperti air mancur... Untuk sesaat tubuhnya menegang dan tak bergerak...ekspresinya menunjukkan rasa fantastis yang tak terbayangkan... Lalu tiba-tiba tubuhnya terkulai...lemas tanpa daya...matanya terpejam...terengah-engah...

Evelline memeluk korbannya dengan mesra, mencium keningnya, lalu berdiri menghampiri buffet, menyalakan sebatang sigaret mentol, dan duduk di sofa memandangi hasil karyanya yang kini terbaring lemah tanpa daya. Evelline memandanginya...dan dengan sabar menunggu Jenni terbangun, untuk melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih buas pada tubuh semampainya, yang kini merindukan sentuhan halus, untuk memuaskan hasratnya....

Jenniffer mulai menguasai dirinya...lalu diangkatnya kepalanya yang masih terasa agak berat itu...pelan-pelan ia mencoba untuk duduk. Kedua payudaranya terasa pegal dan ngilu, sementara kedua putingnya masih tetap mengacung tegak. Di pangkal pahanya terasa lembab dan becek. Setelah penatnya mereda, gadis itu pun berdiri.

"Udah bangun?", terdengar suara Evelline dari arah belakang
"Udah kok", jawab Jennifer sekenanya
"Jen, kamu balik kapan?", tanya Evelline lagi.
"Menurut schedulenya sih besok sore, flight jam 5"
"Sebaiknya aku juga ikut flight itu ya, kira-kira penuh nggak?"
"Coba aja sih...tapi karena ini direct flight, biasanya sepi kok", Jennifer menjawab, kali ini dari dalam bilik shower. Suara air shower yang bergemericik menghentikan percakapan kedua kekasih sejenis itu.

Baker Street, London, jam 8 malam

Hiruk pikuk pejalan kaki di depan museum Madame Tussaud mengalahkan macetnya jalan Panglima Sudirman di Jakarta. Dinginnya suhu yang mendekati nol membuat Evelline harus menarik ritsluiting jaket kulitnya rapat-rapat. Mereka mempercepat langkah kaki mereka menuju bar terdekat, sambil senantiasa tersenyum membalas senyuman akrab para polisi London yang terkenal ramah.

Suasana bar di bilangan Picadilly itu terasa lengang karena malam belum lagi larut. Seorang bartender muda yang tampan dengan cekatan meramu pesanan Evelline, sedangkan Jennifer hanya menghadapi segelas kecil Bourbon dengan es batu. Matanya tak lepas memandangi leher jenjang Evelline yang kini bebas terlihat karena rambutnya yang lurus diikat kebelakang. Rahang yang tirus dan indah menjembatani leher indah itu dengan wajah bidadari yang lembut namun menggoda, wajah khas wanita Parahyangan.

"Minum yuk!", sapaan Evelline membuyarkan lamunan Jennifer.
"Oh...OK", jawab Jennifer sambil tetap menatap Evelline yang tengah meneguk segelas campuran jus tomat dan vodka.
Suasana hening sejenak.
"Jen, aku ke toilet dulu yah", kata Evelline, "Pengaruh Bloody Marry membuatku harus menyelesaikan sesuatu". Evelline berkata sambil mengedipkan mata penuh arti, lalu melangkah ke toilet di sudut ruangan. Tanpa disadarinya, Jennifer mengikutinya melangkah ke toilet.

"Klik", suara pintu ruang toilet dikunci. Evelline agak terkejut melihat Jennifer kini berada bersamanya di dalam ruang toilet yang sempit itu. Tapi ia tak sempat berkata apa-apa karena bibir hangat Jennifer keburu menyergap bibirnya...mengulum, melumat, menghisap.
Jennifer menarik bibirnya dari bibir Evelline, ditatapnya dalam-dalam mata Evelline yang kini sayu, dengan bibir yang setengah terbuka. Jennifer meraba pinggang Evelline...lalu menyusupkan kedua tangannya ke balik sweater Nike berwarna hitam, sehingga kini tak ada apa-apa lagi yang memisahkan telapak tangannya yang halus dengan kulit tubuh Evelline yang lembut dan hangat. Jemari lentik Jennifer segera meraba ke atas dua bukit halus yang kini naik turun seiring dengan nafas Evelline yang terengah.

Kehangatan telapak tangan Jennifer segera menyelimuti kedua payudara Evelline, sehingga wanita itu terpejam dan memeluk erat tengkuk Jennifer yang kini tengah mendaratkan ciuman-ciuman kecil ke lehernya. Sengatan listrik yang kuat menyambar seluruh tubuh Evelline ketika jari-jari Jennifer menangkap kedua putingnya, tubuhnya seakan terhempas.

Jeniffer kini memainkan jemari kedua tangannya, menyapu-nyapu kedua puting Evelline, melingkarinya, dan memilin-milin pelahan. Sementara Evelline terpejam, mempererat pelukannya, menggelinjang menahan serbuan birahi yang mengalir deras melalui kedua puting payudaranya, dijepitnya kedua kaki Jennifer dengan kaki kiri, dan dijilatinya leher jenjang wanita jangkung itu...

Jennifer menyingkapkan sweater Evelline...ia membungkuk dan mengoleskan lidahnya pada puting kiri Evelline... berkali-kali... dengan jilatan-jilatan yang mantap, kadang-kadang lembut... kadang-kadang lidahnya berputar mengelilingi puting Evelline yang kini sedang mengeras, mengacung dan berdenyut-denyut... Evelline kian kewalahan... tubuhnya terasa lemas manakala lidah Jennifer menyayat puting payudaranya, kakinya bergetar...tak kuasa berdiri ia terduduk di atas tutup kloset di toilet sempit itu.

Jennifer berdiri di atas lututnya, direngkuhnya tubuh lemas itu, didekapnya pinggang Evelline yang ramping, sembari mulutnya terus saja mengulum dan menjilati puting-puting Evelline bergantian kiri dan kanan...Evelline mendesah-desah, menggeliat-geliat, kedua tangannya terangkat memegangi tengkuknya sendiri... kepalanya mendongak ke atas... matanya setengah terpejam merasakan kenikmatan tiada tara yang kian menghanyukan... Tanpa disadarinya, kancing dan ritsluiting celana jeansnya telah terbuka lebar, menanmpakkan celana dalam putih yang kini telah basah kuyup.

Sambil tetap mengulum puting kanan Evelline, Jennifer mengusap-usap bagian tubuh Evelline yang terbungkus celana dalam...lalu menyelipkan jemarinya ke dalam...mencari-cari, dan akhirnya ditemukannya sebuah tonjolan kecil yang kini berdenyut, basah, dan hangat. Jari tengah Jennifer tanpa ampun menekan dan memutar-mutar tonjolan itu. Evelline kian tak tahan...ia tak berani bersuara karena berada di tempat umum dan setiap orang di toilet itu bisa mendengar erangannya...namun pijatan jari tengah Jennifer di klitorisnya membuatnya histeris...tangannya seolah gugup mencari pegangan di dinding yang rata...kakinya meronta-ronta hingga celana jeans itu melorot hampir ke lututnya...kepalanya terbuang ke kiri ke kanan...matanya terpejam, alisnya menyatu, bibirnya ternganga, namun giginya terkatup...ekspresinya mirip orang yang kesakitan meski sebenarnya ia sedang berusaha menahan gelombang serangan birahi yang terus menerus tanpa ampun menghantam tubuh indahnya...

Wajah Jennifer kini berada di selangkangan Evelline yang tak lagi bercelana...lidahnya menjilat-jilat klitoris Evelline yang kini telah menyembul keluar dari persembunyiannya, jari tengah tangan kanannya kini tengah bergerak keluar masuk di dalam liang kelamin Evelline yang sempit, sementara tangan kirinya tetap rajin meremas dan memilin puting payudara Evelline... Geliatan Evelline kian tak terkendali, tangannya mencengkeram kepala Jennifer yang dijepit kuat oleh pahanya, kepalanya menengadah ke atas, nafasnya kian terputus-putus dan memburu....hingga tiba-tiba dirasakannya sebuah gelombang yang mengalir dari seluruh tubuhnya ke liang kelaminnya...Liang itu menyempit tiba-tiba dan menjepit jari Jennifer...gelombang itu pun meledak...dan cairan bening pun menyembur dari sana...keras...dan banyak sekali...bersamaan dengan berakhirnya semburan-semburan itu, Evelline merasakan seluruh tubuhnya kehilangan tenaga...Tubuh semampai yang tadi menggeliat-geliat hebat itu kini lunglai tak berdaya...

Beberapa menit kemudian keduanya telah kembali ke bar yang kini mulai ramai. Bartender sempat menanyakan kesehatan Evelline yang tampak kuyu, dan dijawab dengan senyuman sayu Evelline yang membuat Bartender itu langsung mengangguk mengerti. Setelah membayar, pasangan itu pun melenggang meninggalkan bar. Jennifer terpaksa melambatkan langkah cepatnya untuk mengimbangi langkah Evelline yang kini agak gontai. Evelline mengatakan bahwa itu ialah pengaruh Bloody Marry, namun Jennifer tahu, bahwa bukan hanya minuman itu yang mengakibatkan Evelline berjalan gontai.

(Masih banyak cerita dari saya, tapi belum diketik, ya tunggu aja deh!)

TAMAT

 

Pengirim: resender (resender@yahoo.com)

 

Penilaian Pembaca: Bagus = 100%, Cukup = 0%, Jelek = 0%

 

     
<PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>1                                                           </PIXTEL_MMI_EBOOK_2005>